Tak ada hal yang lebih membahagiakan,daripada dibangunkan kekasih untuk bersama menghadap Sang Kekasih..
Inilah cinta sebenarnya. Saling membangun dalam meraih kecintaanNya. Dan tak pernah ada hal yang lebih menyenangkan dan membahagiakan daripada ini.
Tuhanku, Sang Maha Pembolak balik hati.. Mohon tetapkan hati kami pada agamaMu. Bimbing kami saat banyak khilaf dan terlupa.. Kasihi kami.. Jika Engkau hanya mengasihi orang2 yg selalu ingat padaMu,maka siapa lagi yang bisa mengasihi kami? Orang2 yang dalam bangkit dan tenggelam mencoba mengeja asmaMu.
Mohon,beri kami kenikmatan untuk setiap waktu yang kami habiskan untuk mendekat padaMu Dan berikan pula kami keresahan untuk setiap waktu dimana kami bermaksiat padaMu
Kabulkanlah,ya Rahman..
Depok,18 Mei 12 Penuh cinta untukmu dan untukNya Marah = sayang? Sebagai orangtua, seringkali kita luput dari memikirkan efek buruk apa yang terjadi ketika kita memarahi anak kita. Entah karena kesalahan berpikir yang membuat kita merasa anak itu milik kita dan bebas kita apakan atau apa, rasanya marah memarahi menjadi hal yang sangat lumrah. Iya, ketika itu kita menyesal, tapi apakah itu membawa kita pada diri kita yang lebih baik? Maksudnya, ketika saya menyesal telah mencubit, apakah saya memastikan diri saya tidak terjebak pada cubitan-cubitan yang lain? Apakah kita belajar untuk lebih baik? Mudah-mudahan iya, setidaknya melalui tulisan ini saya mencoba kembali mengingatkan diri saya untuk sedikit saja lebih bersabar terhadap anak. Iya, sabar, kata yang seringkali terlupakan aplikasinya. Padahal, saat saya sedikit lebih bersabar, ternyata itulah yang akan meredakan suasana. Sebaliknya, saat nada suara meninggi, apalagi diiringi omelan2, anak sangat bisa menangkap hal tersebut, dan itu akan memperburuk suasana hatinya. Jika ia tengah menangis, maka tangisannya makin kencang. Dan seperti lingkaran setan, itu justru akan memacu sang Ibu menjadi lebih kesal. Judulnya, kacau. Hehe. Yang juga harus disadari, kita sebagai orang tua seringkali lupa bagaimana menjadi seorang anak. Semua hal kita lihat dari sudut pandang kita. Melarangnya bermain air, padahal dulu juga kita suka main air. Melarangnya ‘menghias’ rumah dengan menebar barang2 di seluruh penjuru rumah, padahal dulu juga kita begitu. Melarangnya bermain kotor-kotoran, padahal itu mainan favorit kita dulu. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang dewasa kita, nanti rumah jadi kotor, nanti jadi ngga indah, nanti lebih capek, nanti malu kalo ada tamu. Padahal, kegiatan-kegiatan itu yang sebenarnya menstimulus perkembangan anak. Jadi, marah kita, betulkah karena sayang? Kalau kita sayang, mengapa kita memilih melukai hati anak kita untuk bisa menyampaikan rasa sayang tersebut. Pasti ada cara yang lebih baik, yang bisa dimengerti oleh kita dan anak kita. Karena otak anak sangat luar biasa, bisa merekam dan membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Menyakiti dan mengecilkan anak hanya akan menghambat kecemerlangannya di masa datang. Lalu tentang melarang dan dilarang, pada prinsipnya, bagi saya, selama itu adalah kegiatan yang tidak berhubungan dengan aqidah dan akhlaq dia, saya usahakan tidak melarangnya. Namun, jika telah menyangkut masalah etika, kesopanan, ketaatan beragama, akan lain lagi ceritanya.
 Belajar meredam si marah.. Dalam beberapa kesempatan lain, saya bisa cukup bersabar dengan meredam kemarahan saya pada fathan. Indikatornya bagi saya, saya tidak mengeluarkan kalimat bernada tinggi, tidak pula menyentuhnya dengan sentuhan marah yang cenderung kasar. Seperti ketika saya tengah sangat lelah menyiapkan sidang komprehensif, lalu dengan cerianya dia mencelupkan modem yang saya pinjam dari mamah untuk browsing bahan sidang. “Da..lihat! berenang..” Isy. Kalau ngga inget itu amanah Allah, bukan milik kita, rasanya pengen ngapain aja. Hehe. Saya cuma bisa ngeluarin modemnya, duduk lemas, setelah itu tiduran. Dalam diam. Menyadari bundanya ga berkenan, dia juga jadi nangis. Saya tetap cuma diam dan tiduran, menenangkan diri. Sampai sudah benar2 tenang, saya peluk dia, saya ajak tidur. Kali lain, saat dia tantrum begitu lama, saya ajak dia ke air, berwudhu. Sekalian saya juga baru akan shalat. Setelah itu, dia membaik. Dan tahukah, kesemua cara yang saya lakukan, dan mungkin juga pernah anda lakukan ini memang anjuran Nabi untuk ummatnya yang tengah marah.. Berikut saya lampirkan beberapa hadist nabi tentang marah, yang mudah-mudahan bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita. 1.Dari ibnu Abbas dari Nabi saw,beliau bersabda.”Ajarkanlah(perkara agama kepada manusia),berilah kabar gembira,dan janganlah mempersulit.Dan apabila seseorang dari kalian marah,maka hendaklah ia diam.(HR Ahmad) 2.Dari ‘Athiyah r a berkata,RAsulullah saw bersabda,”Sesungguhnya marah itu berasal dari syetan,dan sesungguhnya Syetan itu di ciptakan dari api,sedangkan api hanya bisa dipadamkan dengan air.Oleh karena itu,apabila seorang dari kalian marah,maka hendaklah ia berwudhu(HR Abu Dawud) 3.Dari Abdullah bin umar meriwayatkan,Rasulullah saw bersabda,”tidaklah seorang hamba menelan satu tegukan yang lebih utama (lebih disukai)disisi Allah ‘Azza wa jalla dari pada satu tegukan kemarahan yang ia telan(tahan) semata-mata karena mengharap keridhaan Allah swt(HR Ahmad) 4.Dari Mu’adz ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”barang siapa yang menahan amarahnya , padahal ia mampu untuk meluapkan marahnya,maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya kehadapan seluruh mahluk, lalu dia mempersilahkan padanya untuk memilih bidadari mana yang ia suka (HR Abu Dawud) 5.Dari Anas bin Malik ra,sesungguhnya Rasulullah saw bersabda ,”barang siapa yang menjaga lidahnya (dari membicarakan aib orang lain)maka Allah akan menutupi aibnya(kesalahannya).Barang siapa yang menhan marahnya,maka Allah akan menahan adzab-Nya terhadap dirinya pada hari kiamat,Dan barang siapa yang meminta maaf kepada Allah ‘Azza wa jalla maka Allah akan menerima permintaan maafnya (HR Baihaqi) 6.Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim) 7.Al Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan hadits dari seseorang dari shahabat Nabi Shalallahu alaihi wasallam dia berkata : Aku berkata : Ya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam berwasiatlah kepadaku. Beliau bersabda : jangan menjadi pemarah. Maka berkata seseorang : maka aku pikirkan apa yang beliau sabdakan, ternyata pada sifat pemarah itu terkumpul seluruh kejelekan. (HR. Imam Ahmad) ..dan masih banyak lagi hadist lainnya. Maka, apakah kita masih memilih untuk marah?
 Depok, 15 Mei 2012 “Dasar mamak gila!” “Eh,elu tuh yang gila!!” Saya yang mendengar dari sebelah hanya geleng-geleng kepala. Isy. Sudah sekitar 4 bulan ke belakang saya dan keluarga kecil saya pindah ke Kota Depok, daerah Kalimulya tepatnya. Cenderung masih daerah pinggiran yang jauh dari keramaian. Namun, tetap saja, hiruk pikuk dunia tetangga selalu menjadi hari-hari yang mewarnai kehidupan saya sekarang. Berbeda dengan rumah2 sebelumnya, saat ini kami menyewa rumah petak di dekat rumah yang sedang kami bangun. Rumah petak yang amat sederhana, hanya terdiri dari pagar, teras, ruang tamu, 1 ruang tidur, dapur, tempat cuci, dan kamar mandi. Satu baris rumah petak ini terdiri dari 4 rumah yang hanya terpisah oleh dinding bata tak berlapis. Artinya, dinding rumah saya menjadi dinding rumah tetangga juga. Akhirnya begitu, semua pembicaraan bernada tinggi terdengar jelas di telinga saya. Termasuk pembicaraan ibu dan anak di atas, asalnya dari tetangga sebelah. Ini yang menjadi renungan saya belakangan ini. Rasanya telinga saya sudah biasa mendengar teriakan bernada tinggi berisi omelan atau bahkan cacian, seringkali terlontar dari seorang ibu kepada anaknya. “Dasar bengal kau ya! Udah mamak bilang jangan main air masih aja main air!” –salah satu contoh teriakan lain yang membuat saya terdiam, miris. Setelah itu sudah bisa ditebak, ada tangisan yang menggema. Kali lain, omelan itu diiringi pula dengan sentuhan dari kayu pemukul kasur. Entah sentuhannya seperti apa, yang jelas saya melihat kayu itu menjadi sosok yang menakutkan bagi 2 anak kecil di sebelah rumah saya.
 Dibalik rasa marah seorang Ibu.. Jujur saja, saya bisa memahami alasan kemarahan ibu-ibu tetangga. Jengkel karena bermain air, imbasnya pada kebersihan rumah. Karena setelah itu anak-anak pasti akan menjejakkan kaki kotornya ke lantai rumah, dan akhirnya kotor kemana-mana. Selain itu cucian pun jadi bertambah. Jengkel karena anak selalu bermain sampai lupa waktu makan,waktu sholat, waktu belajar. Ini juga tak lain untuk kebaikan si anak, sebenarnya. Intinya, saya tahu bahwa dibalik omelan-omelan mengerikan yang saya dengarkan, ibu-ibu tersebut bermaksud baik. Hanya saja begitulah jadinya.. Saya sangat bisa memahaminya dari sudut pandang keibuan saya. Terlebih, saya juga bukan tipe ibu yang sabar. Dalam beberapa kesempatan, saat lepas kontrol, saya sampai mencubit gemas pantat, atau pipinya. Cubitan yang membuat saya menyesal kemudian, dan memenjarakan saya dalam perasaan bersalah setelahnya. Atau kali lain keluar juga omelan-omelan saya (tanpa kata kotor dan kasar, harus). Setidaknya ada beberapa hal yang dalam pandangan saya merupakan sabab musabab kemarahan seorang Ibu pada anaknya: 1. Kelelahan dengan pekerjaan rumah yang tiada habisnya. 2. Pelampiasan kekecewaan terhadap pasangannya, berimbas pada anaknya. 3. Latar belakang keluarga, dibesarkan dengan cara yang keras. 4. Bosan dengan rutinitas yang sama setiap harinya. 5. Terakhir, karena ketidaktahuan dan ketidak fahamannya. Beberapa hal ini membuat saya tidak lantas langsung menyalahkan seorang Ibu ketika ia marah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin ia tengah lelah. Di balik marah seorang Ibu, ketahuilah mungkin dia belum faham seperti apa seharusnya menjadi seorang Ibu. Karena belum semua Ibu rajin memperkaya dirinya dengan ilmu-ilmu mendidik anak. Karena belum semua Ibu juga memiliki benteng keimanan dan kesabaran yang kokoh, yang menjadi modal dasar mendidik anak. Anak, tanggung jawab siapa? Banyak hal menarik saat mengikuti komunitas “yuk menjadi orang tua shalih” di salah satu situs jejaring sosial. Siapa sebenarnya yang lebih bertanggung jawab terhadap seorang anak? Ternyata jawabannya adalah Ayahnya, bukan Ibunya. Lebih lanjut, Abah Ihsan (pendiri dan pengasuh komunitas tersebut) menyebutkan bahwa Ayah seharusnya memiliki planning, akan seperti apa anaknya. Nah, eksekusinya ada di tangan Ibu. Jadi, sebenarnya ayah dari sang anak lah yang bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anaknya. Bagi saya, support sang ayah bagi tumbuh kembang anaknya pun tak berhenti sampai pada memiliki arahan saja. Akan tetapi dia juga harus memastikan bagaimana kondisi eksekutornya (dalam hal ini ibu si anak- istrinya). Coba bayangkan, bagaimana si Ibu akan menjalankan arahan suaminya ketika waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga? Tentu ini bukan suruhan agar semua suami memberikan asisten rumah tangga pada istrinya. Yang saya maksudkan, ayah dari si anak harus lebih peka dengan kondisi istrinya. Tidak selalu harus dengan melengkapkan fasilitas yang memudahkan si istri, sebuah pujian hangat nan tulus pada seorang istri sudah menjadi hadiah terbaik yang akan membuat riang harinya. Dan ketika perasaan ibu riang? Insya Allah frekuensi marahnya pada sang anak pun akan berkurang.. Ini yang mungkin masih tabu untuk kita. Bayangkan betapa indah dan luar biasanya ucapan ini: “Makasih ya ma, udah jagain anak-anak papa. Padahal kayaknya mama capek banget, tapi mama luar biasa sabar. Papa bangga sama mama..” (kalau bahasa ayah fathan: makasih ya bun udah ngurusin kami. Maafin dua lelakimu ini, walau kami sering ngeselin, sebenarnya kami sayang banget sama bunda. Nak, ayo sun bundaa :D) Betapa indahnya ucapan terima kasih itu terdengar di telinga saya.

(foto: dua lelaki saya) Alih-alih pujian dan berterima kasih, sepertinya pertengkaran dan saling menyalahkanlah yang masih sering kita lihat dan dengarkan di sekitar kita. Pertengkaran yang justru akan makin merusak suasana yang ada.
Tadi udah mau turn off laptop, tapi liat desktop background nya malah jadi pengen nangis. Ditambah lagi denger lagu "ayah aku mohon maaf" nya ebiet g ade. Air mata bercucuran..
Merindukanmu, ayah. Sangat :') Merindukan perbincangan2 singkat kita yang bermakna dan berharga.. Selalu, selamanya, kau lelaki terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku  
Dan pohon kemuning akan segera kutanam Satu saat kelak dapat jadi peneduh Meskipun hanya jasad bersemayam di sini Biarkan aku tafakkur bila rindu kepadamu
Walau tak terucap aku sangat kehilangan Sebahagian semangatku ada dalam doamu Warisan yang kau tinggal petuah sederhana Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan
Meskipun aku tak dapat menungguimu saat terakhir Namun aku tak kecewa mendengar engkau berangkat Dengan senyum dan ikhlas aku yakin kau cukup bawa bekal Dan aku bangga jadi anakmu
Ayah aku berjanji akan aku kirimkan Doa yang pernah engkau ajarkan kepadaku Setiap sujud sembahyang engkau hadir terbayang Tolong bimbinglah aku meskipun kau dari sana
Sesungguhnya aku menangis sangat lama Namun aku pendam agar engkau berangkat dengan tenang Sesungguhnyalah aku merasa belum cukup berbakti Namun aku yakin engkau telah memaafkanku
Air hujan mengguyur sekujur kebumi Kami yang ditinggalkan tabah dan tawakkal
Ayah aku mohon maaf atas keluputanku Yang aku sengaja maupun tak kusengaja Tolong padangi kami dengan sinarnya sorga Teriring doa selamat jalan buatmu ayah tercinta.. “Kehamilan bukan sekedar peristiwa biologis, tapi lebih kepada keajaiban Allah. Seperti apapun teori manusia berucap, kalau Allah berkehendak lain ya pasti lain ceritanya..” Kalimat di atas meluncur begitu saja dari mulut saya, saat berbincang bersama adik kelas yang curhat karena sudah 10 bulan menikah, tapi belum juga dikaruniai keturunan. Padahal menurut pemeriksaan medis, dia-ataupun pasangannya tidak mengalami masalah apapun. Hanya saja memang mereka masih tinggal berjauhan, belum satu rumah. “Teteh udah mau dua, aku satu pun belum dikasih. Suka jadi stress..” Ah, sejenak saya tersentak. Keturunan yang Allah karuniakan adalah kenikmatan yang tidak Dia berikan pada semua. Maka, tetap menjaga diri di depan orang yang belum dikaruniai tetaplah menjadi suatu kewajiban.. “Diambil hikmahnya aja dek, teteh dulu ga sempet loh ngalamin masa lama pacaran berdua sama suami. Begitu nikah langsung Allah kasih, langsung jadi Ibu..Sekarang malah kalau mau pacaran berdua kebingungan, ini anak-anak mau ditaro dimana? Hehe” Tentu saja ini dimaksudkan untuk menghibur, bukan menyesali kehamilan saya dulu. “Lagian kan sekarang masih pisah sama suami, mungkin Allah kasian kalau kamu jalanin kehamilan sendiri. Insya Allah kalau nanti udah serumah, mudah-mudahan Allah kasih ya..” Setau saya memang begitu, seperti halnya orang tua saya dahulu. Saat pisah kota, belum dikaruniai. Begitu tinggal serumah, Alhamdulillah Allah berkenan karuniai.. “Dan yang harus tetep disyukuri dek, Alhamdulillah menurut medis ga ada masalah apa-apa. Berarti tinggal menunggu kapan Allah akan berkehendak. Yang lain ada loh dek ternyata yang harus pengobatan ini itu dulu..” Ah, bicara seperti ini rasanya membuat hati semakin meleleh. Saya mendapatkan semuanya dengan sangat mudah, lancar, bebas hambatan. Maka, mestinya segala tantangan ketika hamil menjadi suatu hal yang harus disyukuri ya? Tidak semua bisa merasakan ‘nikmatnya’ mengalami masa mual, lemas, lelah, lesu saat kehamilan. Saya yang sudah dipercaya seharusnya bisa menerima dan bersyukur. Apalagi hanya mengalami pada trimester pertama, dibandingkan dengan kenikmatan setelahnya, seharusnya yang 3 bulan ini menjadi tidak ada apa-apanya. Ah Allah, malu. Tahu, mengapa kita tak boleh terlalu senang berlebihan saat dikaruniai kenikmatan? Agar kita menjaga yang lain untuk tetap bersyukur.. Karena, tak semestinya kita menjadi perantara orang untuk kufur nikmat.. Yang hamil, menjaga perasaan orang yang belum hamil.. Yang sudah menikah, menjaga perasaan orang yang belum menikah.. Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin.. Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik.. Indah. Kita menjaga diri bukan lantaran orang-orang disekitar kita iri.. Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita.. Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati.. Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya J Cimahi, 27 April 2012 Belakangan, saya mempunyai kebiasaan yang agak lain. Saya suka sekali melihat akun-akun dunia maya yang pemiliknya sudah tiada. Akun facebook, ataupun juga twitter. Saya ingin melihat seperti apa kisah kehidupan mereka sebelum ajal akhirnya menjemput. Dan itu mencengangkan. Beberapa orang seolah tahu bahwa ia akan menjemput ajalnya dalam waktu dekat. Status atau tweet mereka seperti menyiratkan hal tersebut, setidaknya bagi saya yang membaca, meski entah sebenarnya apa yang ada dibalik pikiran mereka saat menulis hal tersebut. Seorang kawan menulis tentang kampung syurga serta kerinduan tentangnya, yang lainnya mengatakan bahwa saat ini sangat sedikit teladan yang bisa diikuti-kebanyakan teladan itu adalah mereka yang sudah pergi, yang lain lagi menulis “saat-saat perjumpaan itu sudah dekat, lancarkan ya Allah..”, ada juga yang bahkan menulis notes terakhir dalam hidupnya, yang isinya pun tentang kematian (ini karena beliau akan menghadapi operasi, yang ternyata memang menjadi akhir dari perjalanan hidup beliau di dunia). Feeling. Apakah ia memang ada? Orang yang tak lama lagi meninggal konon bisa merasakan bahwa hidupnya memang tak lagi lama. Seperti itu kah? (bertanya pada rumput yang bergoyang ceritanya ) Dari situ, saya jadi terfikir, dunia maya sudah menjelma menjadi desa global. Maka, seperti layaknya kehidupan nyata, apakah kehidupan maya juga kelak akan menyediakan “kuburan” bagi akun-akun yang tak lagi bermajikan? Karena hingga saat ini dunia maya tidak memisahkan siapa yang sudah tiada dan siapa yang masih ada, dan dunia maya juga tidak memiliki prosedur khusus kepada akun yang tak lagi bermajikan, maka kemarin saya putuskan untuk menyimpan rapih semua username beserta password saya di hp suami. Saya kirim pada dia melalui sms. Yang dikirimi merasa bingung. “Kenapa bun, tiba-tiba kirim gituan?” “Bisi bunda meninggal duluan. Terus ayah nanti mau bangun rumah tangga lagi sama orang dan ga mau keganggu bayang-bayang bunda. Jadi bisa update status married to yang baru dan deactivate-in akun bunda..” Yang dibilangin malah mencibir, tidak suka dengan tema pembicaraan itu, hehe.Tapi ketika itu saya memang serius ko. Saya ingin dia menyimpan baik2 arsip itu, hingga suatu ketika saya sudah tiada, dia bisa membaca-baca perjalanan hidup saya, bahkan sejak saya dan dia belum dipertemukan. Saya ingin dia menyimpan baik-baik semua itu, agar dia bisa membaca catatan-catatan yang tidak saya publish kepada semua orang (di email misalnya). Saya hanya ingin dia menjaganya untuk saya, itu saja. Coba tengok akunmu di dunia maya, berkunjunglah ke akun-akun yang sudah tak bermajikan, dan belajarlah banyak dari sana. Kelak, nasib akun kita pun akan serupa dengan mereka. Lalu, status2 kita, tweets kita, notes kita, blog kita, akan juga kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah. Maka, berhati-hatilah terhadapnya seperti engkau berhati-hati dengan lidahmu di dunia nyata. Yang juga harus dijaga adalah, sejauh mana kesamaan antara kita di dunia maya dan dunia nyata. Allah membenci orang yang berkata tapi tidak melakukan yang dikatakannya bukan? Maka jika kita gemar sekali melakukan pencitraan di dunia maya tanpa membaikkan diri kita di dunia nyata, bukankah itu adalah hal yang sama dengan bentuk yang berbeda- berkata tanpa melakukan tindak nyata terhadap apa yang dikatakan? Kematian selalu menjadi sebaik-baik nasihat, semoga dengan berkunjung ke akun tanpa majikan, bisa sedikit mengganti kebiasaan baik yang jarang kita lakukan : ziarah kubur dan mengingat mati.. Cimahi, 25 April 2012 “Wa amithaa ‘alaa syahadati fii sabiilik..” “Hal yang misterius selalu berharga, karena ketidaktahuan kita akan hal itu, maka semua hal harus kita pertaruhkan untuk meraih kepastian terbaik” Dulu, sebelum menikah, saya membenci hal-hal misterius. Pasalnya sangat sederhana, hal-hal misterius seperti menyuruh saya menunggu tentang kepastian dibaliknya. Dan itu melelahkan. Hingga akhirnya setelah menikah, saya semakin banyak belajar, bahwa dibalik hal yang misterius itu selalu ada hikmah yang Ia selipkan. Mengapa tonggaknya pernikahan? Karena jodoh pun adalah bagian dari misteri, bukan? Dulu pernikahan adalah hal yang sangat misterius bagi saya. Dengan siapa saya akan menikah, seperti apa pernikahan saya, semua sangat misterius. Ada kekuatan di luar kekuatan kita yang bergerak mengatur itu.. Lagi, mengapa tonggaknya pernikahan? Karena setelah menikah pula lah saya kehilangan sosok lelaki yang sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup saya, dia yang tak terganti, papap. Seperti halnya jodoh, saya faham bahwa maut pun adalah misteri milikNya. Tak pernah terbayangkan pedih dan sakit karena ditinggal seorang ayah, terlebih karena saya pun memiliki kedekatan khusus dengannya. Dia yang selalu bertanya seberapa banyak saya sudah menulis, dia yang selalu bertanya perkembangan saya dan keluarga kecil saya, dia yang diamnya selalu meneduhkan hati siapa saja yang melihatnya. Ah, kita memang tak pernah tahu seperti apa akhir hidup kita dan kehidupan setelahnya, benar-benar tak terbayangkan. Kadang saya benar-benar super penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya mati? seperti apa saya akan mati? Dan seperti apa kehidupan saya setelah mati? Saya, anda, kita semua tak pernah tahu akan hal tersebut. Hanya tahu bahwa itu kepastian, akan terjadi, tanpa tahu detil-detilnya. Dan karena kita tidak pernah tahu siapa akan meninggalkan siapa, maka setiap perjalanan hidup kita menjadi sangat berharga, orang-orang yang berada di sekeliling kita pun menjadi sangat berharga. Siapa bisa menjamin kita bisa bersama suami kita hingga tua? Siapa bisa menjamin kita masih berkesempatan melihat anak-anak kita tumbuh besar? Bahkan siapa yang bisa menjamin bahwa esok masih menjadi jatah hidup kita? Tidak ada yang bisa menjamin. Tidak saya, tidak juga Anda. Maka sekali lagi, renungan saya sampai pada, hal-hal misterius itu selalu berharga. Karena kita diberikan peluang untuk menciptakan kepastian dibalik hal misterius tersebut. Jodoh, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membaikkan diri hingga kita pantas mendapatkan yang juga baik. Itulah bagian dari usaha kita. Kematian, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita membiasakan diri melakukan hal-hal kebaikan, karena kematian seseorang tak akan jauh dari bagaimana caranya hidup. Rezeki, seberapapun misteriusnya, Allah menyuruh kita berusaha meraihnya sekuat tenaga kita, hingga sampailah rezeki itu di tangan kita. Sesuatu diciptakan Allah secara misterius untuk melihat, siapa yang lebih baik usahanya, siapa yang hanya seadanya dan sebisanya saja. Andailah masing-masing kita mengetahui kapan akan mati, mungkin akan lain ceritanya. Kita, atau saya, mungkin akan berpikir, oh..masih lama ini matinya. Nanti kan bisa dikebut menjelang kematian (logika yang sama saat menghadapi deadline tugas kuliah, atau saat menghadapi uas). Kemungkinan lain yang bisa saja terjadi saat kita mengetahui kapan akhir hidup kita, mungkin kita malah tak bisa mengerjakan apa-apa, saking takutnya menghadapi waktu kematian. Karenanya, Allah jadikan ia tetap sebagai suatu misteri. Seperti juga Allah menyimpan rezeki kita sebagai misteri. Tak bisa terbayangkan apa jadinya kalau seseorang sudah diberi tahu bahwa dia diciptakan menjadi si miskin, pastilah untuk berusaha saja rasanya sangat malas. Karena kita tidak pernah tahu seperti apa rezeki kita, maka kita pun mengusahakan yang terbaik untuknya. Bagaimana juga jika kita sudah mengetahui dari awal siapa yang akan jadi pasangan kita? Mungkin kita tidak bisa menjaga diri karena merasa pede bahwa pada akhirnya dia juga akan menjadi pasangan kita. *idih. Atau mungkin juga malah jadi hopeless, karena pengennya sama yang lain. Hehe. See, sangat menyenangkan mengetahui bahwa semua itu adalah misteri yang masih bisa diusahakan. Sama halnya dengan masa depan, masa lalu pun bagi saya masih banyak meninggalkan misteri yang memancing rasa penasaran yang sangat berbekas. Kadang wujudnya bisa menjadi hal yang bermanfaat, seperti dari siapa saya berasal, siapa kakek-kakek-kakeknya kakek saya, apakah saya ini memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh-tokoh terkenal dalam sejarah *hehe (dalam silsilah keluarga dari mamah, saya katanya keturunan sekian dari salah satu sunan di walisongo. Lupa sunan siapa ) Mengetahui tersebut adalah hal yang menyenangkan, selain karena bisa menguak misteri (meski entah benar atau tidak), pengetahuan tentang masa lalu juga bisa menjadi cermin pembelajaran untuk kita di masa sekarang. Namun, tak semua dari masa lalu saya ingin kuak kebenarannya, sebagian saya biarkan ia tetap menjadi misteri. Terkadang terlalu banyak tahu akan sesuatu membuat kita menjadi tidak nyaman, dan seperti itulah jadinya. Ah, lagipula masa lalu telah berlalu.. Simpulan saya akhirnya begini, misteri itu bukan sesuatu yang harus kita tunggu seperti apa kepastiannya, karena itu melelahkan. Misteri adalah sesuatu yang seharusnya menggerakkan kita untuk berusaha membuat peluang-peluang tentang bagaimana kepastian misteri itu pada akhirnya. Cimahi, 24 April 2012 Akhir-akhir ini, saya sangat senang membaca dan menulis tentang hikmah dan pembelajaran di balik pernikahan. Bagi saya, ini hal yang menyenangkan. Selain bisa berbagi kepada banyak orang, saya juga secara tidak sadar sembari mengevaluasi pernikahan yang saya jalani. Seperti kemarin, membaca tulisan di blog seorang kawan yang juga menuliskan tentang renungan pernikahan.Ada hal yang menarik dan saya ingat hingga saat ini, meski redaksinya tidak detil saya ingat.. Pada intinya, teman saya –sebut saja reisha- hihi :P menulis, bahwa seyogianya sepasang suami istri harus saling peka dan menghargai. Baik istri, maupun suami, sama-sama memiliki peran,dan pernikahan bukan tempat untuk menimbang siapa yang lebih berat bebannya siapa yang lebih ringan, siapa yang berhak untuk merasa lelah, siapa yang tidak, bukan. Intinya, dengan perbedaan peran itulah justru suatu pernikahan menjadi indah- kala orang orang didalamnya belajar untuk saling menghargai. Ini betul-betul saya alami. Seharian mengerjakan pekerjaan rumah sendiri sambil mengurus anak –yang padahal baru satu- rasanya badan ini ga karuan. Lelah. (ini lebih ke faktor tidak membiasakan diri sejak dini, hihi). Jadi, ketika suami pulang dari kantor, inginnya dia yang gantian –minimal untuk jaga fathan- sambil saya rehat sejenak. Tetapi suami juga ternyata pulang ke rumah dengan harapan yang sama. Pulang dari kantor dengan berbagai pekerjaan yang melelahkan, inginnya di rumah disambut dengan muka ceria, rumah yang rapih, plus penampilan yang segar. Kondisi seperti ini terkadang sangat rawan, rawan konflik jika tidak berupaya saling memahami dan menghargai. Terlebih, latar belakang saya sebelum menikah, apa-apa selalu dibantu sama pembantu. Suami pun, dibesarkan oleh seorang ibu yang sangat memanjakan anaknya. Apa-apa disiapkan. Bisa dibayangkan, dua orang dengan latar belakang mirip bertemu dalam bingkai pernikahan. Kalau tidak ada yang mau mengalah dan berbesar hatiiii…bisa-bisa perang dunia ketiga pecah. Heheh. Seringkali, suami yang mengalah duluan untuk hal ini. Saya minta, setelah sampai rumah, sempatkan waktu minimal 10 menit untuk menanyakan kabar saya, juga untuk bermain bersama fathan. Selanjutnya biasanya kami makan malam bersama, lalu dia bersih-bersih diri, kemudian menyempatkan lagi sejenak menikmati family time, dan kami rehat..Tak banyak memang waktu yang kami miliki bersama pada hari kerja. Pergi kerja jam 6 pagi dan pulang ke rumah jam 7 malam membuat kami tak memiliki banyak kesempatan bertemu tatap muka. Meski komunikasi selalu berjalan selagi dia di kantor. Dan yah, inilah pernikahan bagi saya. Pembelajaran luar biasa tentang bagaimana kita harus hidup. Intinya, baikkan diri kita, maka orang pun akan berangsur membaik. It works! Terlebih, bagi saya seorang istri dan ibu ideal adalah suhu penghangat keluarga. Ia yang harus selalu menjaga agar keharmonisan itu ada dalam keluarga.Hingganya, seorang suami berangkat bekerja dengan hati yang riang gembira, tidak berbekal geram dan amarah dengan carut marut rumah tangga. Hingganya, seorang anak bisa beraktifitas dengan penuh ceria, menikmati hari-hari pengasuhan yang luar biasa bersama sang bunda. See, ini jauh lebih baik daripada selalu menuntut pasangan supaya selalu baik tanpa kita membaikkan sikap kita pada pasangan. Kalau versi Aa Gym, semua selalu dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal kecil, daaan, mulai dari sekarang. Kalau kata Mario Teguh, pantaskan diri kita untuk menerima kebaikan-kebaikan yang kita harapkan. Saat kita tak cukup baik, maka pantaskah kita mengharap yang baik2? J Beautiful life, Alhamdulillah. Bimbing kami selalu ya Allah.. Cimahi, 19 April 2012 Makasih teh echa atas bingkai pernikahannya. Its sooo touchy J Setiap hal memiliki pangkal juga ujung. Pun begitu dengan studi yang saya jalani hampir lima tahun ke belakang ini. Saya memulainya pada Agustus 2007, dan berakhir 16 April 2012 kemarin. Ini tentang kisah saya sebagai (mantan) mahasiswa jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran. Ada haru menyelinap ketika detik-detik yudisium bergulir. Takut dan khawatir dengan hasil yang tidak diharapkan, tapi juga senang karena tahu semua akan segera berakhir. Dan semua, sampai pada puncaknya ketika bu Pandan (dosen kami) mengumumkan bahwa kami (saya beserta 8 kawan lainnya) semua dinyatakan lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, Alhamdulillah. Saya sendiri meraih nilai A untuk skripsi dan dengan IPK cumlaude 3,6. Hamdan laka ya Allah, bersyukur sekali dengan nikmat yang telah Allah anugerahi.. Sampai akhirnya di suatu titik di tengah yudisium, bulir-bulir air mata saya perlahan ke luar, semakin lama justru semakin deras dan sulit terbendung. Ini perasaan yang sulit dijelaskan. Spontanitas. Beberapa kali saya menengok ke belakang, menghapus bulir yang terlanjur jatuh. Malu, jika orang lain melihat dan menyadarinya. Namun, tetap saja, seorang kawan menyadari. “Wah, bunda nangis..”. Sontaklah saya menjadi bulan-bulanan kawan-kawan dan dosen. (Hal yang dihindari terjadi juga :D). Dan parahnya air mata semakin menderas saja hingga saya harus menengadahkan kepala agar ia terhenti, juga menggigit bibir agar tak terdengar suara isakan. Cukup sulit. Ada sekelebat ingat yang tiba-tiba saja melintas ketika itu. Sekelebat ingat yang buat saya haru sampai menangis dan terisak, sekelebat ingat itu adalah bayang fathan. Wajah sendunya ketika ia ditinggalkan pergi, wajah manjanya saat ia ingin sang bunda mengalihkan perhatian dari laptop kepada dirinya, wajah lemasnya saat ia lelah setelah sebelumnya diajak menemani bunda getting berita, wajahnya yang menghitam setelah satu bulan dibawa KKN, hidup di pedalaman kabupaten Garut dengan orang-orang yang asing, dan episode-episode lainnya yang tiba-tiba saja berhamburan. Fathan, dengan segala tingkah dan polahnya memberikan banyak warna yang begitu berarti dalam kelulusan saya. Saya baru sadar, fathan telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Ia lebih dari sekedar berarti. Ia sangat berarti. Ia ada dan selalu menemani. Ia luar biasa. Hingga pernah suatu saat saya merasa khawatir ketika tahu fathan akan segera punya adik, saya khawatir perasaan saya pada fathan akan berubah. Saya khawatir fathan merasa tersaingi hingga perasaan cinta saya tak sampai padanya dengan sempurna. Karena fathan bagi saya, begitu istimewa. Hingga, cerita tentang fathan selalu saya ingat sebagai kisah yang mewarnai perjalanan saya meraih gelar sarjana. Selain fathan, episode bersama Ia yang telah tiada pun juga menempati tempat yang khusus. Ah, papap. Apa kabarmu disana? Sayang kau tak sempat melihatku bertoga awal Mei kelak. Terima kasih atas keringat-keringat yang bercucuran untuk menafkahiku, membiayai setiap kebutuhan studiku. Laptop pemberianmu masih tersimpan, meski sudah rusak. Buku-buku pemberianmu juga masih kusimpan, ia sebaik-baik warisan yang kau berikan. Terima kasih papap, semoga kita berjumpa lagi, kelak di syurga Allah.. Atas kelulusan ini, saya juga sangat berterima kasih pada Senior Fathan, kembaran yang terpaut jarak usia jauh, ayah Fathan. Hehe. Ia selalu memberikan masukan dalam setiap perjalanan pengerjaan skripsi. Sembari saya juga sedikit membantu dia membuat transkrip wawancara untuk disertasinya. Bersama-sama mendiskusikan metode penelitian, kultur universitas, dan lain-lain. Semua begitu menyenangkan, saat semua kita kerjakan bersama sama J Untuk mamah juga, atas supportnya yang luar biasa. Mamah, seseorang yang membuatku menjadi anak-anak lagi saat Ia mengantar ke kampus pada saat sidang kompre dan sidang skripsi. (Teman-teman yang lain diantar pacarnya) Aku yang udah emak2 ini dianter emak sendiri, sesuatu banget :D Teh dewi dan Mas Amin yang ikut kecipratan repotnya karena harus jaga fathan selagi emaknya sidang. A ihsan dan teh syahidah yang ikut mendoakan dalam jauhnya jarak mereka dengan saya. Rodiah yang juga ikut membantu dengan doanya. Bapak dan Ibu mertua serta kakak dan adik ipar yang juga selalu menanti-nanti kabar kelulusan saya, here I am! Terima kasih semuanyaaa..terima kasih jurnal 07 yang luar biasa, terima kasih agnes, gama, yasun, cahoy, dika, rivki, albi, dan lingga atas kenangan-kenangan manis dalam upaya peraihan gelar sarjana. Semoga Mei nanti bukan wisuda terakhir kita (masih lanjutin belajar ke tingkat berikutnyaa J). Dan yang lebih penting, semoga ilmu ini bisa bermanfaat untuk kebaikan ummat, Negara, bangsa, dan agama. Aamiin J ini lagi iseng banget di tengah persiapan buat sidang skripsi pagi ini. ngeliat wajah fathan tidur bikin hati bergejolak, heheh. i do love him so much. atas semua hal yang pernah terjadi, hal yang paling kusyukuri adalah kehadirannya dan melihat tumbuh kembangnya yang luar biasa. he is my everything :))
My first, my last, my everything.. And the answer to all my dreams.. You’re my sun, my moon, my guiding star.. My kind of wonderful, that’s what you are.. I know there’s only, only one like you.. There’s no way they could have made two.. You’re, you’re all I’m living for.. Your love I’ll keep for evermore.. You’re the first, my last, my everything.. In you I’ve found so many things.. A love so new, only you could bring.. Can’t you see if you.. You’ll make me feel this way.. You’re like a first morning dew on a brand new day.. I see so many ways that.. I can love you.. Till the day I die.. You’re my reality, yet I’m lost in a dream.. “YOU’RE MY FIRST, MY LAST, MY EVERYTHING"

*fathan tempo doeloe :* :* Adalah hal yang menyenangkan saat pertama kali mengetahui bahwa ada seseorang telah hadir di dalam sana, dalam rahimku yang Allah buat sangat kokoh. Syukur Alhamdulillah, Allah Maha Pencipta, Allah Maha Pemberi Rizki. Sudah 6 bulan terakhir ini memang kami menunggu kembali kehadiran buah hati yang akan menambah semarak keluarga kecil kami. Dan Alhamdulillah, saat ini Allah telah mempercayakan lagi seorang hambaNya dalam Rahim saya. Senyum merekah. Ada perasaan haru di sana. Mengetahui bahwa saatnya telah tiba, saat untuk semakin bijak, semakin shalihah, dan semakin-semakin kebaikan yang lainnya. Karena kelak, mungkin tak hanya satu dua saja hamba Allah yang dititipkan pada saya, pada kami. Dan rasanya sayang sekali jika setiap kehadiran buah hati tidak membuat kita semakin baik, di mata Allah tentu. Ada mereka yang bisa dekat dengan Allah di saat senggangnya, tetapi berapa dari mereka yang bisa dekat dan makin dekat lagi kepada Allah di saat sibuknya. Luar biasa. Ini baru hanya akan menginjak jumlah dua, anak yang Allah dititipkan pada saya-kami. Belum 10 atau 11 seperti ummahat-ummahat ternama yang luar biasa. Akan sangat memalukan jika yang dua ini kelak tidak dipersembahkan pada Allah sebagai sebuah investasi masa depan yang luar biasa bagi kami, sebagai orang tuanya. Saya memahami bahwa tingkatan kesulitan dalam hidup itu bertahap, sesuai dengan kemampuan dan seiring pertambahan usia kita. Saat TK dulu, masa tersulit kita adalah memilih pensil warna dengan warna apa yang akan kita pakai untuk mewarnai sebuah gambar. Saat SD, masa tersulit adalah saat buku pelajaran kita tertinggal dan harus rela numpang buku orang lain. Atau saat ketinggalan buku PR. Atau saat kita marahan dengan teman baik kita. Dan saat-saat yang menurut kita kini, sangatlah sepele. Masa SMP dan SMA masa tersulit mungkin UN dan SNMPTN. Semua kesulitan yang jika kita ingat kini rasanya tak terlalu sulit. Entah kita melaluinya dengan seperti apa, tapi yang harus diingat, semua kesulitan itu akan terlewati dan akan menjadi hal yang biasa saja bagi kita ke depan. Dulu bagi saya menikah itu terasa menyulitkan, kebebasan akan terkekang. Setelah menikah, yang terasa lebih sulit ternyata adalah mendidik dan membesarkan anak. Dan setelah dengan satu anak, mungkin bayang-bayang jumlah anak yang sekian pun bisa saja membuat saya khawatir, mampukah saya. Pertanyaan wajar manusia, seorang ibu, yang ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya, anak-anaknya. Tak mengapa pertanyaan itu ada, atau justru berbahagialah karena masih mempertanyakan hal itu. Beberapa ibu mungkin tidak terlalu peduli akan hal itu. Maka kekhawatiran itu, kenali saja sebagai anugerah yang akan membimbing kita agar tetap dalam jalur-jalur kebaikan. Kini, lihatlah ke depan. Masa depan terbentang luas- meski entah berapa lama lagi kita akan hidup. Namun kesempatan ini, kesempatan usia, kesehatan, akal, pikiran, harta, keluarga, adalah sebuah tawaran Allah yang bisa kita jadikan jalan menuju kebaikan, atau sebaliknya. Tak perlu khawatir berlebihan, karena kita seyogianya kita sering bertemu dengan berbagai kesulitan, dan bisa melaluinya. Semua kesulitan di masa datang itu tak ubahnya seperti multivitamin dengan rasa pahit yang tak lain hanya akan menguatkan imunitas kita, dan semakin membuat kita kuat dari hari ke hari. Hadapi saja dengan senyuman, insya Allah lebih mudah. Anak rewel, hadapi dengan senyuman. Cucian numpuk, hadapi dengan senyuman. Tandem nursing, hadapi dengan senyuman. Skripsi belum kelar, hadapi dengan senyuman. Intinya, hadapi. Bukan disembunyikan apalagi lari dari tanggung jawab, yakin, nurani kita pasti tak tenang. Hadapi, kerjakan, mengeluh hanya pada Allah, dan yakin, Allah akan makin sayang pada kita. Dan tak ada kebahagiaan yang lebih membahagiakan dibanding dicintai oleh Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’mannashiir.. *selamat datang di dunia rahim bunda sayang, selamat berjumpa kelak,-6 bulan mendatang.love u :* Depok, Maret 2012 Pernah membaca tulisanmu terdahulu? Jangankan tulisan di masa SD yang mungkin sudah jauh belasan tahun yang lalu, tulisan di masa awal perkuliahan saja mungkin akan terasa asing bagimu. Begitukah? Karena begitu yang kurasakan, contoh yang paling dekat ya saat membuka file-file lama multiply. its not so meee, heheh J Mencermati tulisan dari masa-ke masa memang suatu hal yang menyenangkan. Bila mungkin kita merasa bahwa kita tak berubah apa-apa sejak dulu hingga sekarang, maka tengok saja tulisan kita di masa silam. Gaya bahasa yang dipakai pasti amat sangat berbeda dengan gaya bahasa kita saat ini. Fokus pembicaraan pun mungkin menjadi hal yang konyol bagi kita saat ini, padahal ketika itu hal tersebut adalah hal yang sangat serius bagi kita J Menyadari apa? Kita berubah ya kawan. Kita berubah menjadi lebih dewasa, dalam ucap, sikap, tingkah dan laku. Kita semakin mampu memilah mana yang layak kita perbincangkan, mana yang tidak. Kita juga semakin memahami bahwa menata emosi secara perlahan, menuangkannya dalam bentuk tulisan yang indah akan jauh lebih baik dibanding hanya menuangkan secara mentah apa-apa yang ada dalam fikiran kita. Bukan berarti kita menjauhi tingkah tingkah natural dan spontan, tetapi berarti kita menyesuaikan hidup kita dengan bilangan usia sekian, dengan tingkat kenaturalan yang sepadan. Tentu saja kenaturalan anak SD akan berbeda dengan kenaturalan anak kuliahan. Bukan berarti anak kuliah menjadi tidak natural dan penuh polesan kepura-puraan, tetapi memang mereka memiliki kenaturalan yang berbeda seiring pengalaman hidup yang mereka alami. Ah, menulis memang menyenangkan. Menulis apapun. Meski ketika itu terasa sampah, tetapi bagi diri kita beberapa tahun mendatang, hal tersebut sangatlah berharga. Karena si diri butuh sejenak menengok ke belakang, mengetahui bahwa dirinya sudah maju beberapa langkah. Karenanya amatlah malu jika dalam majunya usia tidak diiringi juga dengan kemajuan-kemajuan lain yang menopang diri menuju tujuan utama hidup ini, keridhoaan Allah. Ini aku yang kini tengah menginjak usia 22 tahun, dengan gaya bahasa yang kuanggap pantas untuk usiaku saat ini. Meski entah apa artinya bagi aku 10 tahun mendatang. Apapun itu, aku nanti akan sangat berterima kasih karena aku kini telah meluangkan waktu untuk menuliskan sejarah, sejarah kehidupan tentangku sendiri. Terimakasih diri J Kalau pernikahan dibangun atas dasar cinta, maka siapapun yang saling mencinta dalam sebuah pernikahan mestinya selalu merasakan bahagia tanpa cela. Kalau pernikahan dibangun –hanya- berdasarkan cinta, maka mestinya orang yang saling mencintai yang terikat dalam suatu pernikahan, tak pernah mengenal kata cerai, atau mungkin bosan, atau rasa-rasa ketidakcocokan lain yang sering kali menjadi biang keladi ketidak harmonisan. Maka tak perlu terlalu banyak berteori bahwa aku akan menikahi orang yang kucinta, karena sejatinya bukan cinta yang akan menjadi bahan bakar keharmonisanmu kelak. Cinta mungkin bukan modal awal yang fantastic, akan lebih baik jika kita menjadikan niat yang ikhlas sebagai modal awal dalam menikah. Niat tulus, semata untuk memenuhi sunnah rasul membangun keluarga sakinah mawaddah warrahmah. Karena,pernikahan bukan hanya aku cinta, kamu cinta, mari kita ikat cintakita dalam suatu bingkai pernikahan. Tidak. Pernikahan adalah komitmen, dan hanya orang-orang yang teguh dengan komitmennya, mereka akan menjaga pernikahan mereka dengan sepenuh jiwa raga. Pernikahan adalah komitmen, dan tiadalah sebuah komitmen tanpa diuji dengan suatu ujian yang membuat kekuatan komitmen itu nampak. Pernikahan adalah komitmen, karena cintamu suatu saat akan pudar, akan layu, hingga mungkin kau tak lagi menemukan alas an untuk mencinta. Tentu akan mudah bagi orang yang tak berkomitmen untuk menjadikan alas an tersebut menjadi tameng atas ketidakmampuan mereka menjaga komitmen, hingga akhirnya memilih berpisah. Meskipun mungkin untuk kasus-kasus yang luarbiasa, perpisahan itu baik jadinya bagi kedua belah pihak. Ingat, hanya pada kasus-kasus luar biasa, itupun masih Dia benci, meskipun Dia bolehkan. Sejatinya dalam pernikahan, tidak selalu indah yang kita dapatkan. Tak seperti, mungkin, bayangan dan angan kita sebelum menikah. Gambaran kebersamaan bersama orang yang dicinta memang terasa begitu nikmat, tetapi ingat, hidup ini berwarna. Dan begitupula dengan perjalanan cinta. Maka, mungkin cinta dalam pernikahan memang harus selalu diusahakan, ditumbuhkan, dipupuk, dipelihara, dan ditumbuhkembangkan. Cinta dalam pernikahan adalah sesuatu yang timbul karena usaha kita, bukan sesuatu yang selalu ada. Karena cinta, maka kita akan berusaha banyak toleransi, berlapang dada, dan ikhlas atas banyak hal yang mungkin di luar keinginan kita. Karena cinta, maka kita akan berusaha untuk selalu memberi, tak peduli berapa yang diterima. Karena cinta, kita akan berhenti berekspektasi panjang lebar tentang pasangan, kita akan berhenti membayangkan dia sebagai manusia sempurna dalam benak kita. Pernikahan bukan menyatukan dua orang yang sempurna, tetapi saling menyempurnakan orang-orang yang mengikat janji menjadi satu. Saling menyempurnakan, dalam kata lain, masing-masing memiliki lebih, memiliki kurang. Dan akan menjadi indah jika itu dipadupadankan, diisi satu sama lain hingganya menjadi sempurna. Sempurna dalam kebersamaan. Inilah cinta dalam pernikahan, yang sekali lagi harus diusahakan. Maka, banyaklah meminta kepada yang Maha Cinta, moga Dia tetapkan hati kita, dan hatinya untuk tetap dalam mahligai cinta yang diridhaiNya. Mahligai cinta yang dibangun berlandaskan keinginan untuk taat pada Dia dengan wujud membahagiakan pasangan kita. Landasan cinta abadi yang tak akan tertelah waktu dan masa.
Depok, maret 2012 Salam.Karena ini udah jam 2 malem,maka han cuma akan berbicara 2 hal aja.Hehe.Biar pas sama judulnya.2 untuk 2. Hal 1. Kiranya han dan kluarga hrs bnyak2 brsyukur.Alhmd kawan2,lantai 2 rmh kami uda kelar dibangun.Dan tebak?Malem ini semua kecuali mamah,milih untuk bobo emperan di lantai 2.Termasuk papap.Begitu pulang dr rapat dpw langsung main ke atas.Liat2 sbentar,trus bwa bntal,dan bobo di karpet.Sampe skarang msh brtahan!Ck2.Sdangkan nadia,t dewi,dan rodiah tidur di sisi lain,sama pake karpet juga.Berasa lg di pengungsian aja.Tp nikmatnya luar biasa..Han sendiri brencana tidur brg mamah dibwah.Tp mau baca asbabun nuzul dulu,br nanti tidur.
Hal 2. besok han beraktifitas padat.*atau memadatkan aktifitas?* kembali ke jatinangor lagi.Terakhir kesana pas hari..Ng..Ahad kmarin.Seusai kumpul fotsar yang langsung chao ke jtngr.Kangen jtngr kah?Mm..Iya. Doakan ya mg urusan han slalu ALLAH mudahkan.Eh,udah ngantuk bgt ni.Kapan2 lagi ya ta sambung.Salam.
Salam.baru aja bernostalgia liat tulisan2 han di blog2 yang dipunya.seru juga ternyata.kayak kembali ke masa lalu. Ah,masa lalu...kenapa bayanganmu selalu saja indah?apa jangan2 makin kesini han makin ga bahagia? Hm,semester 4 ini.ga ada yang bisa dibanggain.nilai hancur.huhu,sedih. Waktu curhat sama rodiah,dia tanya.. 'ada masalah apa emang teh?terlalu sibuk?' Dan han jawab. 'bukan de.ini justru karena teh hani memilih untuk ga mau sibuk.tapi malah jadi ancur2an.
Oh ALLAH yg maha baik.berilah han kesibukan bermakna yg dengannya han merasa bahwa diri han mengalami perkembangan.
Suka kagum sama mahasiswa yg semangat.kental dengan idealisme muda yg menggelora.lantas han yg liatnya?hehe.apa ya,kayaknya uda cukup puas pernah merasakan jadi mahasiswa yg pny seabrek aktifitas organisasi.dan akhirnya memilih untuk sejenak mengambil jeda.tapi ternyata...malah keteteran. Kalo kata t tyarin,han itu so tua.padahal sbenernya masih bnyak fase2 mahasiswa yg blm han lewati.
Han kuatir,jgn2 ini pemberontakan diri gara2 dipindah sayap da'wah?ah,tapi harusnya itu ga jadi masalah.
Lalu2,biarlah masa lalu itu berlalu.hikmahnya,semester 5 nanti han mau banyak aktifitas!ga akan so2 mau memperbaiki ipk tp malah jeblok.lagian han bingung,bisa2 nya han memilih untuk ga sibuk.padahal ga sibuk bener2 bkin han terpuruk.
Kalo mamah baca,pasti beliau langsung girang sambil minta han beres2 rumah.sambil beralasan,katanya mau sibuk?hihi.entah kenapa,betulan de han mending diminta masak daripada diminta beres2.ga suka aja :P
Oke.tanpa dimintapun kayaknya semester 5 nanti han sibuk dengan sendirinya,dengan amanah baru menjadi...ehem.hehe.apa coba.. Eia,han mau pindahan dari averous.taun ini han mau ngontrak rumah,ciee..
Iya,betulan rumah.bukan kamar kosan lagi.hff,menjelang kehidupan baru.ayo bersemangat! :) Salam semua... Yap, han lagi ada di sukabumi, tepatnya di daerah Cisaat, beberapa meter dari gerbang objek wisata Situ Gunung. Inget situ gunung sebenernya jadi inget 2 hal. Pertama, inget tragedy situ gintung di cireundeu karena namanya mirip. Kedua jadi inget most adventure bareng kawan2 bki, karena beberapa bulan yang lalu kita baru aja kemah bareng disini. Wihiiii, jadi inget masa2 itu  Suasananya sejuk-nyaris berangkat menuju dingin. Tapi Alhamdulillah,di samping han ada dua bantal dan satu guling, lengkap dengan selimut dan kasur yang luas. Jadi, sangat siap untuk menghadapi kedinginan nanti malem. Hehe. Lumayanlah… Iya, jadi gini kawan2, han lagi nemenin babeh han control kesehatan di pengobatan dahsyat ala shaolin. Orang sebenernya lebih ngenal ini dengan pengobatan holistic, ada juga yang bilang kalo ini pengobatan ala shaolin karena katanya sang ahli pengobatan belajar langsung dari para shaolin. Apapun itu, yang jelas tempat pengobatan ini menamakan dirinya sebagai yayasan patria mitra medika. Para pegawai yayasannya pake baju dengan desk masing-masing, lengkap dengan atribut lambang shaolin yang ditimpa pake gambar uler dan gelas kek anak farmasi itu.
Lucu betul pengobatan ini. Bukan lucu sih, lebih tepatnya mantep aja. Bayangkan, atas izin Allah, orang2 yang penyakitnya udah parah banget, mengalami perkembangan yang lebih baik setelah beberapa lama berobat di sini. Contoh deketnya aja, papap. Sebelum dibawa kesini, papap sering banget bed rest gara2 salah makan. Sekalinya makan gule kambing langsung dibawa ke rumah sakit, nginep 2 minggu di sana. Balik lagi, salah makan lagi, masuk rumah sakit lagi. Haduh, capek betul kita orang saat itu. Bukan capek fisik sih, lebih tepatnya capek hati plus sedih banget-banget karena papap terlihat ga membaik. Sampe akhirnya, tada! Seorang ustadz dari ciamis menyarankan papap untuk nyoba pengobatan holistic ini. Awalnya papap aga males, soalnya uda banyak banget jenis pengobatan yang papap lakuin, dan sejauh itu gda perbaikan. Tapi, demi kesehatannya, papap terlihat ga mau nyerah. Beliau akhirnya bersedia nyobain pegobatan di sini. Biayanya terbilang cukup mahal, sekitar 7 jutaan. Tapi sebenernya itu ga seberapa dibanding sama nilai kesehatan orang yang sangat keluarga han cintain-papap. Lagipun uang 7 juta itu untuk selamanya, maksudnya, kalo uda bayar segitu ya uda. Selamanya ga usa bayar lagi. Bebas kapanpun mau kesitu. Asik ya? Singkat kata, papap yang tadinya ga bisa jalan barang selangkah pun akhirnya bisa kembali beraktifitas seperti biasa…Alhamdulillah, biiznillah tentunya..
Ini kali pertama han langsung merasakan suasana di tempat pengobatan ini. Banyak orang berseliweran, tapi mereka ga keliatan kayak orang sakit. Hanya beberapa orang yang pake kursi roda. Baru beberapa langkah masuk ke wilayah pengobatan, seorang ibu tua nyapa papap… “Eh, bapak! Uda bisa jalan lagi pak?”
Dan papap pun balas menyapa… “Iya nih bu, Alhamdulillah…”
Setelah si ibu berlalu, han Tanya ke papap tentang sakit apa yang diderita ibu itu. Ng, kalo ga salah jawabannya sakit jantung. Huahh…banyak lagi kemudian orang-orang yang menyapa papap dan disapa oleh papap, keknya uda kayak saudara aja orang2 ini. Mereka saling men-support, saling menguatkan bahwa harapan itu masih ada-mereka pasti bisa sembuh. Yaya, semangat sembuh itu terpancar dari mata2 mereka. Mata seorang ibu yang kakinya diamputasi karena diabetes, mata seorang nenek di atas kursi roda yang terkena sakit jantung, dan mata-mata lain yang faham betul bahwa mereka hanya manusia yang sedang berusaha. Dan mereka hanya kenal satu kata, BERJUANG! Ya, berjuang untuk tetap sembuh, sehingga bisa berkumpul kembali bareng orang2 yang mereka cintain…
Ngeliat papap diantara kerumunan orang2 itu, ada kebahagiaan tersendiri. Masih banyak ternyata yang punya penyakit lebih parah dari papap, dan mereka tetep semangat buat sembuh. Itu artinya, papap pun harus dikasih semangat kalo papap pasti bisa sembuh! Semangat papap harus melebihi semangat mereka, dan itu tugas han sebagai supporter papap di sini. Hehe. Seru ternyata ya liburan dengan cara lain. Liburan plus2, selain bisa ngeliat pemandangan luar biasa di ketinggian Sukabumi, han juga bisa bertafakur langsung tentang makna sehat ! luar biasa berharga kesehatan itu. Ya Allah, makasih sampe sekarang kau masih memberikan kepercayaan kesehatan itu buat han. Semoga kepercayaan ini bisa han jaga…
Last, han juga ngerasain arti penting persaudaraan di sini. Betapa mereka bisa ngerasa deket satu sama lain, padahal mereka orang yang tadinya ga pernah ketemu sama sekali. Kenapa? Karena mereka uda menemukan apa yang membuat mereka melekat, dan mereka faham tentang itu… Beda sama kita yang sehat2 aja. Kadang malah lupa tentang makna persaudaraan. Terucap di lisan tapi ga kerasa implikasinya ke hati. Mungkin karena kita-orang sehat- lupa manfaat apa yang bisa dikasih dari sebuah ikatan persaudaraan yang tulus. Yah, ada baiknya sesekali kita berkunjung ke tempat orang sakit berkumpul, agar kita inget lagi tentang buah keikhlasan dari sebuah jalinan persaudaraan..
Sukabumi, 11 april 2009
Pukul 18.59 pm assalamualaikum wr wb yak ampun, multiply tu ternyata masih eksis ya? hehe, kacau. udah lama ga ngenet yang serius. kenapa ya, ko rasanya lama2 bosen sendiri juga menghabiskan banyak waktu di dunia maya. suka nge hang di dunia nyata soalnya. aneh ya? :D tapi da kumaha, han lagi kehilangan rasa ketertarikan dengan dunia maya. sedang menemukan kenyamanan dalam kehidupan qabla pemilu. hehe. direct selling yo direct selling! iya, kawan2. jadi akhir2 ini di jatinangor lagi puanas banget dengan berbagi aksi dan kegiatan tentang pemilu. mulai dari aksi kemaren yang memperjuangkan mahasiswa luar daerah supaya nyontreng di sini, sampe kegiatan direct selling yang tadi han lakukan bersama bon2. huah, serunya. jadi nagih :D pemilu sebentar lagi? sudahkan anda punya pilihan? kalo belom, yo kita ngobrol yo, apa aja yang membuat anda susah untuk menentukan pilihan. kali aja setelah kita ngobrol jadi ada pencerahan. hehe. eh, hari ini seru de. tadi pagi kan han bangun kesiangan tu, terus langsung pergi ke suatu tempat. janjian sama kolega bisnis han. ngobrol2 lah kita di sana, membicarakan masa depan bisnis yang kita rintis. wuah, banyak sekali yang harus kita kerjakan...:) dunia baru, semangat baru. insya Allah... nah, habis ketemuan sama kolega bisnis kan han dateng ke rumah makan di sayang tuh. beli sarapan ceritanya. ga disangka, tiba2 ada seseorang yang sebenernya dia ga terlalu kenal han [cuma tau nama tapi gtw hani tu yang mana], nyapa han. gini katanya... dia : punten teh, anak bpmu ya? [han saat itu emang lagi pake jaket bpmu..] han : iya. eh, tapi saya bpmu tahun lalu... [oh no, kadang ga ngeh kalo han uda ga di bpm lagi] dia : oh, punten namanya siapa? han : hani dia : oh, ini to yang namanya hani.. han : nyengir..*Allah, segitu terkenalkah hani? :D dia : saya masih punya sisa uang lima ribu di sini, pake aja. kalo masih kurang tambah sendiri aja ya. han : loh, gpp? *ga berusaha untuk nolak. lagi kere pan ceritanya.. dia : gpp, pake aja. saya duluan ya, assalamualaikum han : makasi kang, waalaikumsalam.. *mungkin harusnya bukan kang sapaan yang tepat itu, karena beliau uda beranak istri. oh, subhanallah! senangnya! bukan karena han ditraktir siapa, tapi karena kangkung, nasi, tempe, dan telor yang ada di hadapan han saat itu uda halal bagi han tanpa harus mengeluarkan biaya. hehe. semoga Allah memberikan balasan yang lebih pada orang itu :) amin. and then, han balik ke averous, makan dan siap2 buat ds [direct selling] sama bon2. pas ke markas besar, di sana ketemu bos bisnis han. huah, lamanya ga ketemu beliau. dan saat itu si bos cuma tanya, kenapa terlambat? glek. maafkan... singkat cerita han sama bon2 ds de! parah banget! ternyata masih banyk banget warga yang belum tahu gimana cara memilih yang baru... mirisnya, saat kemarin kita aksi ke kpud ketua kpud sumedangnya bilang kalo mereka uda sosialisasi dan warga uda pada tau. padahal ternyata........ miris.
banyak dinamisasi seru akhir ini. termasuk cerita baru han di keputrian bki, ya, amanah baru yang harus dijalankan sebaik2nya. ah, Allah.. hambaMu ini mendamba dunia yang lebih baik..
Salam belakangan ini lagi sering buka forum angkatan pas SMP. Awalnya cuman iseng aja ngelontar isu di bidang politik. sungguh ga nyangka, kondisi di sana saat ini penuh dengan hawa2 kental politik.. hm, ngomong2 tentang politik, nilai komunikasi politik han A loh, hehe. senangnya  memang, orang2 dengan tipe han ini akan berusaha semaksimal mungkin mendapatkan yang terbaik di bidang yang disukainya. betul2? hm, inget de waktu pra OJ kemarin, ada materi tentang pengenalan diri.nah, ada delapan macem karakter kan tuh.. ekstrovert-introvert sensing-intuitive feel-think judge-perceiver dan han adalah tipe orang yang introvert, intuitive, feel, dan perceiver. ga nyangka juga sebenernya, sejauh ini han selalu mengenal diri han sebagai seorang ekstrovert, ternyata kan...tada! han itu lebih condong ke introvert.. introvert yang bermetaforsa.. wah, ngga ngerti juga kenapa bisa kayak gitu  lalu2, ng, kemarin itu sebenernya tiba2 aja jadi sering ngebahas 'ikhwan bercelana jeans'. hm, jujur aja, waktu SMA dulu han paling ga suka liat ikhwan pake celana jeans, aneh, ga bagus, kesel sendiri aja liatnya... eh, sebelumnya, maaf nyambung ke hal ini. menurut han ini penting ko  beranjak kuliah, han memasuki dunia FIKOM dengan medan juangnya yang luar biasa. huah. pas lagi dateng ke sebuah dauroh fikom, untuk pertama kalinya han liat ikhwan2 bertebaran pake celana jeans.. awalnya mikir kek gini.. 'itu orang ikhwan atau bukan si? ko pake celana jeans belel kek gitu..?' akhir2nya, han mulai membiasakan diri, dan mulai mengenali bahwasanya ngga ada yang salah dengan jeans. menurut han loh ya... betulan. han jadi bingung sendiri, itu kan cuma tentang celana.. tapi tetep, celana jeans yang masih han tolerir adalah yang ngga ngetat dan ngga robek2. kalo belel, hm, ga gitu masalah si kalo buat han... penilaian han pribadi loh ya. inget sebuah peristiwa. alkisah, di unpad itu kan lagi ada pemilihan presiden mahasiswa unpad. Nah, ada salah satu pasangan calon yang biasanya selalu pake celana bahan, tiba2 pas masuk wilayah fikom dan sosial lainnya berubah pake celana jeans.. tujuannya tentu untuk membuat temen2 yang ada di fikom ngerasa bahwa mereka (pasangan calon) itu adalah kawan. seorang temen han pas tahu hal ini tiba2 ngerasa kesel.. 'maksud mereka(pasangan calon) itu apa? malu dengan identitas ikhwan mereka?' nah, han jadi makin bingung. kira2 seperti ini adanya.. celana bahan adalah identitas ikhwan, celana jeans adalah identitas non-ikhwan.. lah, bingung sendiri han jadinya. betulan kayak gitu emang ya? ko han ga berpikir seperti itu ya... well, celana jeans bukanlah suatu perkara besar buat han. yang penting kita tetep beriman. LOH? hehe. udah ah. mau ada wawancara sama bocah yang lagi skripsi.. salam lagi di bpmu, lagi brefing pra lokakarya stugov unpad. dengan hati yang ngga terlalu tenang. ada apakah? huwa, tadi han menitikkan air mata saat mama telpon. hm, mama itu keren. keren banget. selalu biisa ngebuat anaknya merasa dicintai. ya2, kita harus selalu siap dengan segala kemungkinan. siap untuk maju, siap untuk mundur. semangat! ng, osjur uda beres, alhamdulillah. bahagia banget rasanya. ip han semester ini loncat ke bawah, haha. turun berapa poin gitu, signifikan juga. tapi alhamdulillah, ipk nya sejauh ini tetap terjaga cumlaude. semangat untuk lebih baik! paket jurnal semester 4 totalnya 20 sks. tapi han mau nambah, mata kuliah pilihan dari jurusan manajemen komunikasi. mau tau mata kuliahnya apa? "kampanye dan propaganda!" haha, gimana han ga tertarik coba?! yak2, mari kita PKRS, nambah mata kuliah 3 sks untuk mata kuliah kampanye dan propaganda. tak sabar rasanya  ng, belakangan lagi sensi, ga nyaman berada dimana2. oh tidak, apa yang salah kah? bwehehe... masih zaman kah anak semester 4 kuliahan ikut ospek?
yah, itulah yang menyebabkan han jarang online belakangan. hihi. tapi masi sempet aja ke bpmu. YES2! huaaa, lupa sesuatu.
nanana, mari kita berangkat bersama-sama! *apa si?
| |